Otaku Fetish: Semakin Mengkhawatirkan

Selama ini, KAORI sudah mengobservasi beberapa hal-hal berbau otaku di Jepang. Terutama sih, pantsu dan seifuku. Meski demikian, ada isu yang cukup mengkhawatirkan beberapa waktu belakangan ini.
Memang banyak hal yang bisa dibahas dari otaku. Namun membahas semuanya akan menjadikan artikel ini tidak spesifik. Sehingga, kali ini KAORI akan memfokuskan pada otaku fetish.
Berikut ini adalah laporan dan komentar KAORI mengenai otaku fetish dalam beberapa waktu ini. Karena KAORI bukan jurnalisme otaku, maka KAORI akan mengambil posisi mengkritisi otaku saat ini. Silakan mengikuti.

Perkembangan otaku fetish memang tidak dapat dilepaskan dari penerimaan konsep "otaku" di masyarakat. Seiring dengan makin diterimanya hal ini di Jepang dan di dunia, dan juga semakin diliriknya segmen niche market ini oleh industri, menjadikannya mulai dilirik oleh banyak orang.
Tapi, sampai sejauh mana hal ini berlangsung? Apakah otaku dengan segala cita rasa mereka kini sudah diterima oleh masyarakat? Dan bagaimana mereka mengembangkan diri?
Beberapa waktu lalu, KAORI pernah mengangkat isu petisi kawin dengan karakter 2 dimensi. Dan sepertinya, keinginan otaku di Jepang ini tidak berhenti sampai di sini saja.
Sudah banyak boneka-boneka yang diproduksi dalam ukuran sebenarnya, untuk memuaskan hasrat para otaku yang bosan dengan perempuan tiga dimensi.
Seperti boneka Saber ukuran asli ini. Ia memang bukan barang baru, pun harganya cukup mahal. Walau demikian, bagi otaku, uang bukan masalah, sehingga mereka tetap memburu barang ini.
Belum diketahui, sejauh mana boneka ini bisa "digunakan".

Satu lagi, boneka ini memang khusus dipakai untuk sex simulation. Perusahaan pembuatnya menawarkan dukungan penuh untuk berbagai komponen boneka ini. Boneka ini dapat dipakai untuk banyak hal. Untuk sekedar dipajang, dibawa mandi bersama, bahkan untuk dipakai "tidur" bersama.
Obsesi terhadap boneka tiga dimensi, dan karakter dua dimensi adalah salah satu warna baru yang cukup mengundang kontroversi. Dalam kalangan otaku sendiri, terjadi perpecahan menghadapi isu ini.
Kalangan otaku Jepang banyak yang mendukung hal ini. Berbeda dengan kalangan internasional, yang cenderung menolak ide ini.
Hal ini pun membangkitkan pertanyaan terhadap fetish otaku saat ini, yang mendapat tentangan dari sebagian kalangan otaku itu sendiri. Beberapa menilai, moe dan lolicon yang digembar-gemborkan saat ini adalah sebuah hal yang sia-sia, dan menyalahi usaha untuk mengangkat citra otaku itu sendiri.
Mimei Sakamoto pada 2006 menganggap, fetish otaku yang saat itu mulai identik dengan moe dan lolikon, sebagai "suatu pembenaran terhadap anggapan buruk masyarakat terhadap otaku", Ia menganggap, moe dan lolikon tidak lebih daripada "ketidakmampuan membedakan realita dan imajinasi", serta menjadikan citra otaku "berpikir tidak jauh dari selangkangan".
Menurut Sakamoto, fetish berlebihan terhadap moe akan kembali menjatuhkan citra otaku itu sendiri. Hal ini mungkin bisa dimengerti, karena memang banyak karakter moe yang lolikon, sehingga memicu stereotip bahwa lolikon sama dengan moe, juga sebaliknya.
Yang lebih kontroversial adalah, ketika Sakamoto menilai fetish otaku saat ini hanyalah menjadikan otaku sebagai sasaran empuk industri dan konsumtivisme. Mereka terbuai untuk memenuhi obsesi mereka, dan rela menghabiskan uang mereka untuk suatu hal yang sangat trivial. Meskipun, barang tersebut dijual dengan harga di atas kewajaran.
Kembali lagi ke topik fetish yang mengkhawatirkan. Hal-hal seperti mesin otomatis penjual celana dalam bekas mungkin tidak begitu menggangu. Namun, yang mengkhawatirkan dari perkembangan fetish otaku belakangan ini adalah "setback" untuk otaku. "Setback" ini semakin dekat, apabila usulan seperti kawin dengan karakter tiga dimensi mendapat tentangan yang sangat besar dari masyarakat.
Apakah otaku benar memiliki pikiran "tidak jauh dari selangkangan"? Mungkin saja, bila otaku masih menstereotipkan diri dengan moe dan lolicon. Bila melihat keadaan yang ada, sepertinya arah kepada hal ini semakin dekat. Hingga mungkin suatu saat, seorang otaku akan mengalami kejatuhan citra moral, dan akan kembali lagi ke posisi mereka di tahun 90-an, mungkin lebih buruk.
Banyak sekali hal lain yang menjadi topik menarik di kalangan otaku, selain moe dan lolicon. Semoga, nantinya masyarakat tidak hanya tahu moe dan loli saja yang identik dengan otaku, sehingga memunculkan persepsi "otaku tidak jauh dari selangkangan".
Shin Muhammad | KAORI News Online | Pemutakhiran Terakhir pada 13 November 2008, 23.39 WIB


![This day is assumed to be the day of the misfortune, and there is a custom of abhorring the present of the marriage etc.Therefore, the person who holds a wedding on this day is a little. There is a Wedding Hall that offers cut rates at the most unlucky day, too. It is said, [The prolonged buddhist ceremony is good on the day from which what also refrains if suffering]. This day is assumed to be the day of the misfortune, and there is a custom of abhorring the present of the marriage etc.Therefore, the person who holds a wedding on this day is a little. There is a Wedding Hall that offers cut rates at the most unlucky day, too. It is said, [The prolonged buddhist ceremony is good on the day from which what also refrains if suffering].](http://www.kaorinusantara.net/wp-content/plugins/koyomi/image/roku3.gif)
Loading...


heh pengertian otaku fetish cuman buat moe en loli terlalu sempit
lom pernah denger armpit fetish?
pikiran otaku tidak jauh dari selangkangan?
get a brain dude
selangkangana ma ketek jauh…
Memang yg disorot di sini cuma moe ama loli kok… coba baca baik-baik pengantarnya
mana bisa gitu, dengan menulis “identik denga moe en loli” dan kemudian membahas keduanya saja itu terlalu mengindikasikan kalo otaku fetish itu terbatas hanya pada kedua hal itu
kalo dah gitu tentu anggapan bahwa pikiran otaku tidak jauh dari selangkangan semakin diperkuat
coba donk minimal tulis kalau otaku fetish bukan cuman loli ama moe doang…
Terima kasih atas kritiknya, post ane revisi
ehbusyret.. itu dodol merangsang banget hrrhrr.
Jgn bilang udah dijual di sini bissa2 aku.. [ngarap2 saber jgn bisa dioprexxx, ga tega].
Btw, bisa bilang hargana berapaan sih? mungkin.. mungkin.. mau nabung..
Harganya sekitar 46 juta rupiah untuk boneka saber… dan untuk boneka “murahan” di bawahnya sekitar 42 juta rupiah…
Kalau soal oprek mengoprek, nggak tahu deh
Belum dijual… tapi kalau berniat impor, titip satu ya… hehehe
Wusssyett.. pake chip A.I. apa hargana selangit gitu, apa bisa diajak interaksi kaya ngomong “love you, hold me!, kiss me!, kimochi.. etc”, atau jangan2.. bereaksi thd sentuhan merespons dgn desahan… glek.. (inget robo aibo).
Impor satu?… tenaaangg tak cari dulu katalog produk asal Cina, yg made in sana kan hargana miring2.., apa nanti di dokument bea cukai bisa ditulisken boneka mainan anak2 ya